Loading...

04 February 2018

'Kartu Kuning' Ketua BEM UI Berujung Ajakan Presiden Jokowi ke Asmat

Jokowi di Dies Natalis ke-68 UI. ©2018 Merdeka.com
Kekhidmatan acara Dies Natalis UI ke-68 di Balairung UI pecah setelah aksi acungan buku kuning ke arah Presiden Joko Widodo (Jokowi), Jumat (2/2). Rupanya, Zaadit Taqwa selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI yang melakukannya.

Ia beraksi tepat setelah Jokowi memberikan sambutan. Dengan mengenakan batik lengan panjang berwarna merah, secara tiba-tiba Zaadit langsung berdiri di tengah tamu yang hadir.

Ia maju ke barisan paling depan hingga sejajar dengan deretan kursi menteri Kabinet Kerja. Kemudian, mahasiswa Fakultas Fisika FMIPA-UI ini langsung mengacungkan buku berwarna kuning yang ia pegang tepat ke arah Jokowi.

Aksi nekat Zaadit itu sontak membuat Paspampres beraksi. Ia langsung 'dicokok' keluar ruangan oleh Paspampres. Usut punya usut, buku kuning yang diacungkan Zaadit ke arah Jokowi merupakan buku paduan suara keluaran UI.

Praktis, polah Zaadit menjadi perbincangan hangat. Ia pun memberikan penjelasan. Zaadit mengatakan buku kuning merupakan simbolik pemberian kartu kuning kepada orang nomor satu di republik ini.

"Sebagai aksi simbolik saja sih. Untuk peringatan (pada Presiden)," katanya.

Dia memberanikan diri melakukan aksi pemberian kartu kuning agar Presiden mendengar suara dan mengetahui sikap mahasiswa. Sebagai Ketua BEM dan mahasiswa tingkat akhir, Zaadit mengaku mendapat dukungan dari BEM fakultas.

"Ini momentum. Kita punya momentum Presiden datang ke UI dan belum tentu akan seperti ini lagi," ucapnya.

©2018 Merdeka.com
Dia menuturkan, ada tiga hal yang ingin disampaikan pada Presiden. Pertama soal kasus Suku Asmat di Papua yang sudah menelan korban jiwa meninggal 72 orang. Jokowi dianggap abai dalam kasus ini.

"Kondisi ini agar segera diselesaikan dengan cepat. Dan mendorong pembangunan Papua bukan hanya infrastruktur tapi juga pemberdayaan masyarakat," paparnya.

Kedua, mahasiswa mengkritisi soal penjabat gubernur yang diwacanakan diisi oleh jenderal aktif Polri. Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan UU Pilkada dan Kepolisian. Ketiga, mereka mengkritisi soal Permen Ristekdikti yang dinilai bakal menghambat gerak organisasi mahasiswa. "Organisasi antar universitas non keilmuan akan terancam (dibubarkan)," ucapnya.

Ketika itu, melalui Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi mengatakan Jokowi tidak mempermasalahkan aksi Zaadit.

Namun, belakangan Jokowi akhirnya buka suara. Ia berniat mengajak Zaadit serta anggota BEM UI lainnya untuk datang langsung ke Asmat.

"Mungkin nanti ya, mungkin nanti saya akan kirim semua ketua dan anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI ya," kata Jokowi seusai menghadiri Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren Salafiyah Safi'iyah Sukorejo, Situbundo, Jawa Timur, seperti dilansir Antara, Sabtu (3/2).

"Biar lihat dapat bagaimana medan yang ada di sana kemudian problem-problem besar yang kita hadapi di daerah-daerah terutama Papua," tambah Presiden.

Meski demikian, ia tetap tidak mempermasalahkan aksi nekat Zaadit.

"Ya yang namanya aktivis muda ya namanya mahasiswa dinamika seperti itu biasalah, saya kira ada yang mengingatkan itu bagus sekali," kata Jokowi.

Post a Comment

Rajawali Book

...
Kumpulan Berita Yang Menarik Di Dunia Dan Di Indonesia, Ayo Baca Di Rajawali Book.

Whatsapp Button works on Mobile Device only