Loading...

22 April 2020

Cerita Perawat Corona Sebulan Tak Jumpa Anak Semata Wayang

Ilustrasi perawat virus corona. (Foto: AP Photo/Domenico Stinellis)
Jakarta - Shinta Aprilia Awaludin dihantui rasa cemas sepanjang malam setelah dia ditunjuk bergabung bersama rekan-rekannya untuk merawat, melayani, dan mengobati pasien terpapar Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, Provinsi Papua.

Perempuan asal Sulawesi Tenggara itu gelisah karena dia tahu penyakit yang bakal dia hadapi berbahaya dan sudah banyak memicu korban jiwa.

"Pertama ditunjuk, saya tidak bisa tidur satu malam, takut. Pikir sepanjang malam sampai harus berdoa minta petunjuk dari Tuhan. Karena virus ini bukan main-main, tidak kelihatan namun bisa mematikan banyak orang, sehingga membuat dua kali lipat berpikir," kata Shinta menceritakan kembali pengalamannya kepada Antara.

Berbekal kekuatan doa dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, Shinta pun lantas menyanggupi diri untuk bergabung dengan perawat lain melayani penderita virus yang belum ada obatnya tersebut.

Sebelum Shinta bergabung, tim perawat yang dibentuk oleh RSUD Jayapura untuk penanganan corona berjumlah 15 orang. Ke 15 orang itu terdiri dari tenaga perawat sebanyak 13 orang dan dua petugas "cleaning service", serta dibantu satu petugas gizi dan satu petugas laboratorium.

Shinta Aprilia Awaludin (Foto: Antara/Shinta)
Shinta belakangan bergabung bersama dua rekan perawat lainnya, yakni Samalina Giyai dan Astriani. Dia mulai efektif bekerja sebagai perawat terhitung 15 Maret 2020, dan sejak itu dia tak berjumpa dengan anak semata wayang di rumah.

Saban hari, petugas kesehatan yang dipilih bergantian jam jaga, berdampingan dengan perawat laki-laki dari pagi, sore hingga malam hari. Tak kenal lelah, bergantian melaksanakan tugas sesuai jadwal yang ditetapkan pihak rumah sakit.

"Kalau dinas pagi kami masuknya pada pukul 08.00 WIT dan berakhir pada pukul 15.00 WIT karena kita harus membuka Alat Pelindung Diri (APD) harus mandi, sterilkan badan lagi baru kita pulang ke asrama," ujarnya.

Jika bertugas di sore hari, sesuai jadwal dimulai dari pukul 14.00 WIT sampai pukul 21.00 WIT. Kemudian pada malam hari dari pukul 21.00 WIT hingga pukul 08.00 WIT. Meski ada selang waktu beristirahat, jeda singkat itu tak berarti menepis bayangan Shinta dengan ganasnya virus tersebut.

Alat Pelindung Diri (APD) yang dipakai sesuai waktu, yakni selama delapan jam berdinas. Setelah delapan jam, APD dibuka dan langsung dimusnahkan. Serba hati-hati karena hanya sekali pakai, langsung dimusnahkan dengan cara dibakar.

Memakainya pun sesuai dengan SOP, membukanya juga harus sesuai SOP. Ada tempat khusus yang disediakan, dilengkapi dengan cairan disinfektan agar setiap kali mengganti APD harus disemprot agar virus corona dipastikan mati.

"Kami membuka APD di ruang yang sudah ditentukan, bukan disembarang ruangan. Ada tempat khusus yang memang sudah disiapkan, jadi ruangan isolasi kita dilengkapi dengan ruang "anti room" itu ruang ganti APD. Di ruangan itu, tersedia cairan disinfektan dan tempat pembuangan limbah dari APD, jadi tidak bisa terkontaminasi dengan ruangan atau dengan pasien lain, setelah itu baru pulang ke asrama," kata Shinta.

Tinggalkan keluarga

Sejak menerima tanggung jawab dari rumah sakit untuk melayani pasien COVID-19, Shinta dengan berat hati meninggalkan buah hatinya yang baru berusia enam tahun bersama ayah tercinta yang sudah lanjut usia (lansia) 86 tahun. Suami Shinta sudah tiada.

Kansha, putri satu-satunya Shinta dan Djumat Awaludin ayahnya, terpaksa dititipkan di kakak kandungnya yang tinggal di Deplat, Distrik Jayapura Utara. Ia terpisah dengan keluarganya selama lebih dari sebulan hanya untuk melayani pasien COVID-19.

Dengan sedih bercampur rindu, Shinta meninggalkan anaknya yang masih kecil dan bapaknya yang sudah tua. Virus mematikan ini cepat pindah ke benda apa saja sehingga Shinta memutuskan untuk tidak pulang. Shinta sementara tinggal di Asrama perawat di dekat rumah sakit.

"Saya tinggalkan anak satu berumur enam tahun, dan bapak saya yang sudah berumur 86 tahun. Anak saya dan bapak saya, dititipkan ke kakak saya. Saya tinggal di Asrama sejak 15 Maret 2020, saya sudah terpisah dari keluarga. Saya tidak pulang ke rumah karena takut membawa pulang virus, saya harus tinggalkan keluarga," katanya.

Shinta (tengah) bersama rekan perawat di RSUD Jayapura. (Foto: Antara/Shinta)
Apalagi anak perempuannya masih kecil dan bapaknya sudah tua sehingga ia takut mereka berdua tertular virus corona. "Saya juga tidak mungkin kembali ke rumah karena anak saya masih kecil dan bapak saya lansia. Saya takut pulang biar mereka sehat," ujarnya.

Tak hanya Shinta yang meninggalkan keluarga, teman-temannya yang ditunjuk untuk melayani pasien COVID-19 ini juga rela meninggalkan keluarga demi menghindarkan keluarganya terpapar virus yang kecil tak telihat namun mematikan ini.

"Teman-teman saya juga meninggalkan keluarga, keponakan, dan orang tua. Mereka juga tinggal di asrama untuk melayani pasien yang terjangkit virus corona ini," ujarnya.

Komunikasi dengan keluarga juga jarang dilakukan karena telepon seluler harus ditinggal di asrama selama mendapat tugas melayani pasien COVID-19. Keluarga bisa dihubungi di rumah sakit, apabila darurat dan sangat mendesak dengan menggunakan telepon seluler yang disediakan pihak rumah sakit untuk komunikasi dengan pasien.

Peluang berkomunikasi dengan keluarga hanya bisa dilakukan secara leluasa jika sudah selesai menangani pasien corona dan pulang ke asrama. Separuh rasa rindu bercampur kangen hanya bisa tersalurkan melalui video call dengan anak dan sang ayah di layar kaca.

"Sering kita video call pada saat lepas dinas. Karena tidak bisa menggunakan handphone di ruang isolasi. Handphone semua perawat ditaruh di asrama. Kecuali sangat mendesak, dipakai handphone yang ada di ruang isolasi untuk menelepon keluarga," katanya.

(Antara/gil)



Sumber: cnnindonesia.com

Post a Comment

Rajawali Book

...
Kumpulan Berita Yang Menarik Di Dunia Dan Di Indonesia, Ayo Baca Di Rajawali Book.

Whatsapp Button works on Mobile Device only